Ramadhan Series – Pengantar Takjil [Ficlet]

makanan-mengandung-rhodamin-b_20160610_095132Pengantar Takjil

Author: popowiii
Main casts: Ten and Doyoung (NCT)
Other casts: Taeil,  Mark & Jaemin (NCT), Mamanya Ten
Genre: Comedy, slice of life, rohani/?, tak ingin lepas dari Ramadhan/?
Rating: General
Lenght: Ficlet

Kemana wakil kita Si Ten?

Author’s note: Bayangkan Doyoung LEBIH TINGGI dari Ten, please….

Jam-jam setelah ashar adalah The Golden Time saat Ramadhan. Karena perjuangan berpuasa sehari penuh akan segera terbalaskan. Banyak yang menghabiskan waktunya dengan TPA, mengajar TPA di masjid, baca Al-Qur’an dan lain-lain. Ten, anak sulung dari keluarga Pak Leechaiyapornkul memilih untuk menunggu waktu buka dengan mengajar adik-adik gemes membaca Iqra’ di masjid. Walau tak jarang ada adik-adik yang menaikkan pitam, tapi Ten tetap berdedeikasi sebagai pengajar TPA, mengingat dia adalah wakit ketua RISMA—Remaja Islam Masjid—di Masjid At-Taqwa, masjid dekat rumahnya.

“Ten, nanti takjilnya di bawa sekalian ya kalo mau berangkat ke masjid. Kalo susah biar dibantu Mang Jono buat bawa, ya,” suara Mamanya Ten terdengar menggema di seantero rumah mereka yang sekiranya muat dimasukin 100 orang untuk buka bersama.

“Ya, Ma… Ten bawa sendiri aja. Mang Jono biar jaga rumah,” jawab Ten sambil mencium tangan Mamanya yang entah sejak kapan wanita paruh baya itu ada dihadapan sang anak. “Ten berangkat dulu ya, Ma. Wassalamu’alaykum.”

Tubuh Ten memang terbilang kecil, tapi nyatanya dia sanggup membawa 45 kotakan berisi ayam goreng dan nasi lengkap dengan lalapan dan sambel super di dalamnya. Tidak lupa 45 gelas es cendol segar yang tak lupa ia tenteng. Don’t judge book by it’s cover memang kadang ada benarnya juga. Jarak rumah Ten dan Masjid At-Taqwa terhitung dekat, cukup dua menit perjalanan Ten sudah sampai di masjid.

“Sore, Mas. Ini takjil dari Mama buat nanti sore, saya taruh sini, ya,” ucap Ten kepada seorang laki-laki dengan baju koko hitam di depannya.

“Eehh, ada orang. Iya, Dek taruh situ aja nanti biar saya yang bawa masuk ke dalam,” jawab laki-laki berbaju koko hitam itu.

“Eh, Kok Dek?” Ten heran kenapa dia dipanggil Adek sama orang ini. Memang betul, jika dibandingkan dengannya, Ten hanya setinggi leher laki-laki itu. Tapi Ten yakin usia mereka tidak terpaut jauh. Lagi-lagi, siapa yang tidak kenal Ten si WK RISMA di Masjid itu?

“Eh, iya. Nama saya Doyoung. Saya baru pindah kemari dua hari lalu,” ujar Doyoung ramah sambil menjabat tangan Ten. Ten membalas jabatan tangan itu dengan rasa kebingungan yang menjalar menguasai dirinya saat ini. “Udah adek pulang aja, TPA mulainya masih nanti. Biar Kakak-Kakak RISMAnya rapat dulu ya, Dek,” jelas Doyoung sembari mendorong Ten menuju gerbang Masjid.

“Kalau nama saya Ten. Aduh, kok didorong? Ta-ta-tapi..” elak Ten.

“Adeknya semangat banget TPA, ya… Kakak salut, deh. Udah dulu, ya. Gerbangnya kakak tutup,” Ten menyaksikan dengan jelas gerbang masjid yang tertutup dengan dirinya yang berdiri miris di luar bangunan suci itu.

Rapat pengurus RISMA pun dimulai, Taeil selaku ketua RISMA membuka rapat dengan sangat baik. “Mana wakil kita Si Ten?” Taeil celingak-celinguk mencari presensi manusia mungil yang tampan itu. “Nggak biasanya dia telat.”

Setelah menutup gerbang, Doyoung masuk ke dalam masjid dan meletakkan takjil yang tadi Ten berikan di pojok ruangan Masjid. Setelahnya, dia bergabung dengan anggota RISMA yang lain.

“Oh iya, Mas Doyoung. Kamu dari luarkan? Lihat Mas Ten, nggak?” Mark, pemuda blasteran itu bertanya kepada Doyoung yang bahkan belum sempat meletakkan pantatnya di atas karpet masjid.

“Doyoung kan orang baru, Mark! Mana mungkin kenal Ten,” celetuk Jaemin merespon pertanyaan Mark kepada Doyoung. Mark hanya nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Karena penasaran, Doyoung bertanya bagaimana wujud dari Ten. Akhirnya Taeil, selaku ketua menjelaskan bagaimana wujud Ten yang sebenarnya.

“Dia itu putih, biasanya pake baju bagus, sendal atau sepatu yang dipakai branded. Orangnya gateng, manis tapi mungil. Seumuran sama kamu, kamu ahir 1996, dia juga. Tapi agak pendek dia, kalo sama kamu ya kira-kira… Seleherlah,” Taeil mengakhiri deskripsinya mengenai Ten.

Doyoung berfikir sejenak. Mengingat-ingat setiap orang yang dia temui saat dia berada di luar masjid beberapa menit yang lalu. Setelah merenung, tiba-tiba matanya terbelalak kaget, dia melongo tak percaya. Segera dia berdiri dari duduknya dan lari ke luar masjid. Membuka kembali gerbang masjid dan menemukan sesosok yang tadi ia kira ‘Adek-adek TPA’ tengah duduk di kursi depan Masjid. Doyoung terlalu kaget hingga mulutnya ternganga kembali setelah beberapa menit yang lalu terkatup.

“Hallo, ‘MAS’ Doyoung. Saya mau ikut rapat RISMA, boleh?” ujar Ten dengan menekankan kata ‘Mas’ untuk mengawali nama Doyoung. Sekarang, kata ‘Mas’ terdengar asing di telinga Doyoung setelah ia mengetahui bahwa mereka berdua seumuran.

Doyoung menamatkan penampilan pemuda mungil yang ada di depannya. Sandal branded, pakaiannya juga bermerek, tubuhnya putih, dan wajahnya—

“Ya, Salam! Ganteng banget!” Doyoung menutup mulutnya yang menganga, lagi dengan kedua tangannya, “Tapi kamu tuh… Hmm, anu…” kali ini ucapan Doyoung menggantung.

“Pendek? Memang lahir begini, jangan salahkan mama mengandung. Ah, udah. Ayo, masuk! Udah ditungguinkan,” kali ini Ten lah yang mendorong tubuh Doyoung untuk memasuki masjid bersama-sama guna mengikuti rapat dengan teman-teman RISMA yang lain.

Doyoung harus benar-benar memahami makna dari pepatah Don’t judge book by it’s cover.

Selesai

Author’s note: KABOOOOORRR! Jangan pukul saya~ Ini tuh ceritanya bangun sahur terus nunggu adzan Subuh yang tak kunjung datang, jadilah seperti ini. Dear, fansnya Ten, aku juga sayang sama doi, kok :3 Jangan apa-apakan saya, ya? Hahaha… oke. Sekian^^*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s